Cerpen Santri
Ilmu Otomatis Seorang Santri
“Alhamdulillah ya Allah, Engkau menempatkan tempat
yang sangat baik untuk ku, yang merubahku, yang memberiku ilmu dan yang
memberikan kepercayaan kepada orang tuaku”. Kata-kata itulah yang selalu
terbesit dalam hatiku, dikala aku termenung dalam kesendirian bulan yang
tersenyum padaku, yang disertai kesunyian malam dan angin yang berhembus
disekelilingku. Aku bener-bener gak nyangka bisa berada di tempat itu, karna
aku melihat perilaku ku yang dulu, yang sangat tidak pantas untuk ku. Sampai-sampai
temanku Ahza berkata “Sudahlah Dan, kamu itu gak usah sok, mau kesana! Di
tempat itu, bukan tempat yang cocok buat dirimu. Itu tempatnya calon kyai,
sedangkan kamu?” Mendengar itu aku langsung terdiam seribu kata. Aku memikirkan
kata-kata tersebut. Memang benar, aku dulunya itu jarang sholat, jarang baca al
qur’an, bahkan di otak ku terfikirkan bahwa: “Agama itu gak penting”. Namun…………
“Buk, Aku gak mau disini! Aku mau boyong.!” Pintaku.
“Nggk papa Nak, paksakan saja! nanti kamu juga tahu hikmanya” Jawab ibuku
dengan nada halusnya, sambil tersenyum padaku, yang mana itu membuatku tak ada
pilihan lain selain harus diam dan menurut. Aku menjalani takdir yang sengsara
ini yaitu dengan menjadi “Santri”. Tiap hari ku jalani dengan tanpa serius. Aku
jarang belajar, bahkan kegiatan pondok pun sering ku langgar. Bermacam-macam
takziran telah ku lahap habis, dan dengan takziran itu aku lama kelamaan
berubah dan sedikit-sedikit mengerti akan manfaat yang luar biasa dari takziran
tersebut.
Suatu ketika “Tek Tek Tek…” Terdengar suara obrakan,
Pertanda bahwa santri harus bangun dan berangkat ke masjid untuk menunaikan
sholat subuh. Gak peduli seberat apapun ngantuknya pokoknya santri WAJIB
hukumnya untuk pergi ke masjid. Dan dikala itu, aku malamnya begadang karena
mengerjakan PR. Jadi ketika berjalan ke masjid itu aku miring-miring setengah
sadar saking ngantuknya, dan anehnya aku bisa melewati halangan, rintangan dan
hambatan dari semua yang menghadang. Aku dapat persaksian tersebut dari Oktavian
(Teman karibku). Dan aku juga sering melihat kejadian demikian, jadi ya
percaya-percaya saja. Hehehe…..
Dan pada saat
di masjid, aku teringat pukulan dari ustad “Sarri” ketika di sekolah tadi, yang
mana beliau menghajar-hajar santri yang tidak mau hafalan. Karna pikiranku
terbayang-bayang demikian,maka aku pun mau tidak mau harus hafalan. jujur, aku
tidak pernah berjuang sekeras ini melawan ngantuk yang sangat berat.
Seakan-akan dimataku terdapat gunung yang mendudukinya. Tapi aku paksa dengan
sekuat tenaga sampai kadang-kadang aku Dangak diluk, Merem melek
Menghafal nadoman kecil yang bernama Alfiyah.
“Teng Tong” Itulah suara bel di sekolahku, yang
menandakan bahwa sekolah sudah masuk. Aku berjalan dari sekolah mulai dari
asrama ke sekolahku kira-kira 300 meteran. Dari perjalanan tersebut ku
sempatkan menghafal nadoman kecil.bahkan waktu sarapan pun aku masih sempat
membukanya. Pokoknya nadoman kecil itu selalu menghantui ku. “Assalamualaikum” Perkataan
ustad Sarri itu membuat jantung berdetak lebih kencang. Dan kelas yang asalnya
rame langsung diam seketika. Di tambah kata-kata nya pun sangat dingin. “Waalaikumsalam”
jawab kami serentak. “Syadan” ucapnya. mengisyaratkan bahwa aku harus maju dan
hafalan. Aku pun maju dengan perasaan kaget, takut dan deg-degan. Di tambah
senjata penjalin yang benar-benar menyerang mentalku. Dan untungnya aku bisa
menyelesaikan hafalanku, meskipun agak kurang lancar. Pokoknya yang terpenting
aku bisa lolos dari penjalin yang berada di genggamanya itu. Ya, itulah niat
awal ku yang salah. Namun dari itu semua, lama kelamaan bisa memperbaiki niat
awalku.Dan kurasakan hikmah nya yang sangat besar dari keadaan seperti itu,
yang mana aku mulai terbiasa berkorban dan berjuang untuk mewujudkan sesuatu, takdim
ke guru/ orang yang lebih tua dariku, serta aturan-aturan yang berlaku
“Dok-dok bruak brak
jdar”suasana di kamar mandi yang sunyi dan hanya suara pertengkaran yang
terdengar. Tepatnya tanggal 12-07-2014 pukul 08.00 (waktu dimana anak-anak
sekolah) aku melakukan tindakan yang benar – benar kusesali dan menjadi
pengalaman yang pahit dalam kehidupanku. Ya, bertengkar dengan seorang santri. Kalau
gak salah “Cepot” itu nama julukanya. Yang pasti dirinya telah menjadi santri
yang lebih senior dariku. Dan jujur, memang dulu aku orangnya mudah tersinggung
dan gampang emosi. Apalagi ada yang memancing “Wooy Diam !” teriak pengurus
pondok dari kejauhan. Dan kami pun diam menurut dan sangat takut untuk kena
takzir. Lalu pengurus tersebut menghampiri kami berdua.Berbagai ceramah telah
dilontarkan kepada kami. Dan yang paling menakutkan ketika kita dibawa ke
kantor ke pengurusan “Waduh, apes-apes sudah babak belur ditambah kenak
pengurus lagi” Bisik hatiku. Ketika tiba di kantor kepengurusan, kami langsung
bertemu dengan ustad yang gak asing lagi. Yang mana kata-katanya sangat dingin,
pedas, serta jurusnya yang telah dinilai santri sangat menakutkan, ya, itulah
yang Namanya ustad sarri. “Ceplas-ceplas” suara penjalin yang menimpa kami.“Aku
bukan menghukum dirimu, namun aku menghukum syetan yang menguasai dirimu”
itulah kata-kata beliau. Meskipun begitu, kami menurut dan tidak ada yang lapor
orang tua, apalagi sampai polisi. Kami hanya bisa menyesali perbuatan kami yang
menimbulkan banyak apes kepada kami. Dan tidak hanya itu, beliau masih menambah
oleh-oleh kepada kami, yaitu dengan disuruh menghafal surat yaasin. Dan kami
punharus menurut, karena kalau tidak pastinya…,,,,,
Itulah pengalaman pahit
ketika aku baru awal-awal mondok, tersinggung dikit langsung marah. Namun yang
sangat menyiksaku yaitu setelah selesai di takzir, alam pun ikut menakzirku.
Aku merasa sangat sempit, karna tiap hari harus bertemu wajah musuhku. Aku
berusaha menghindar, Namun, pilihan itu sangat sulit karna ruang lingkup pondok
yang terbatas. Keadaan seperti itulah yang menyiksaku sehingga kata-kata boyong
pun terbesit lagi dalam benakku. Namun, kata-kata ibukku selalu menjadikan
motivasi bagiku. “Harus kau paksa dan tidak boleh boyong. “Itulah kata-katanya.
Dan ingat dawuhnya salah satu ustad ku “Setiap kejadian di pondok itu harus di
cari hikmahnya, untuk kehidupan besok ketika pulang “Dan setelah kurasakan saat
ini, semua itu memang benar. Namun dari kejadian yang membuatku trauma itu aku
memperoleh manfaat yang besar yaitu aku harus belajar sabar dengan menjadi orang
yang tidak gampang emosi, semua kita anggap bercanda dan yang paling penting
yaitu “Punya musuh itu tidak enak”.Biarkanlah orang lain memusuhi kami, yang
penting kita tidak.Malah lebih baik kita baiki saja nanti lama kelamaan orang
tersebut akan sadar dengan sendirinya.
“Guyonan” Itulah aktivitas
yang dilakukan santri dalam situasi dan kondisi apapun. Bahkan dalam forum
resmi pun masih saja dibuat santai dan guyon. Gus Dur lah salah satu
contoh alumni santri yang mempraktekan aktivitas tersebut. Banyak cerita
Gus Dur dari berbagai sumber yang menyebutkan demikian. Ya, itulah
santri, meskipun aktivitas tersebut terkadang menimbulkan efek yang negatif
bahkan ada yang mempraktekannya dalam menghukumi sesuatu ya, gak tau lah. Tapi
memang itulah kebiasaan unik santri. Meskipun itu kayaknya negatif, namun masih
saja terdapat nilai positif yang kita tidak sadari, salah satunya yaitu, “GHOSOB”(
Memakai barang orang lain tanpa seizin ) perilaku tersebut sudah menjadi
tradisi di pondok pesantren. Dan para santri itu tahu bahwa hukum mengghosob
itu haram dan anehnya masih saja dilakukan. Bahkan kalau kita guyon-guyon kita
mengatakan “Wong Gus Dur ae Ghosob” ada lagi yang mengatakan “ ‘Ulima Ridhohu” ( diyakini si pemilik
itu ikhlas ) dan masih banyak alasan-alasan santri yang lain. Memang saya akui
sendiri bahwa tradisi Ghosob tersebut sangat sulit dihindari oleh
santri, baik santri tersebut mau mengakuinya atau tidak “Wong hidup Bersama
banyak orang dan semuanya teman, ya kita fer-feran aja lah” Ujar santri lainya.
Mangkel memang, tapi perilaku tersebut kan dilakukan banyak orang jadi
saling bergantian. Kalu menurutku sendiri, “Ghosob itu sesuatu yang wajar dan
telah menjadi kebiasaan pesantren. Dan dengan ghosob dan dighosob
tersebut kita dilatih untuk ikhlas, sabar, saling berbagi dan masih banyak yang
lain. “Hehehe… Tapi kalu bisa si pembaca jika mondok persiapkan hati atau
perilaku anda untuk tidak ghosob namun siap di ghosob. Ok!
08.00 WIB suasana
sangat ramai. Bercanda dan tertawa yang mengiri kami yang sedang bermain domino
di pinggir jalan. “Dan…! Bengong aja” bentak Dimas (teman) yang membangunkan
lamunanku. “Oh…ya Dim” Sahutku. “Gimana bisa main ini nggak…?” Tanya Dimas.
“Bisa sih bisa tapi nggak mahir” Jawabku, “Kamu itu gimana sih Dim, orang
mondok kok diajak main begituan ya gak bisa lah….” Ucap Rafi salah satu teman
lainnya. “Iya, orang mondok itu ya nggak seberapa suka main begituan, gimana
kalau kita camping pastinya lebih seru.” Ajakku kepada teman-temanku.
“Kalau kita sih ok-ok saja orang kita terbiasa kok camping-camping begitu.”
Ucap Rexi “Iya takutnya kamu gak jadi camping malah pingin pulang.” Hahaha ucap
Rexi yang membuat mereka tertawa. Lalu aku jawab dengan tegasnya “Langsung
saja, jangan cuma omongan.”
***
Hari H telah
tiba kami berangkat dengan persiapan yang matang dan dilihat dari penampilannya
mereka terlihat lebih matang ketimbang diriku yang memakai sarung dan kopyah
dan hanya membawa bekal seadanya. Kami berenam berangkat dengan memakai sepeda
motor berjam-jam kami lalui dengan tidak terasa. Sebab perjalannya yang begitu
enak karna melewati pemandangan yang indah apalagi suasana masih sejuk.
Tepat pukul 10.00 WIB
tulisan 2 KmPantai CoroTulungagung sudahterlihat jelas dan kita
mengikuti petunjuk arah tersebut dengan berjalan kaki. Dari 2 Km tersebut kita
melewati bukit dan jurang, lalu “Brooak” Suara terpeleset yang mengejutkan kita
semua. Dan suara tersebut berasal dari teman kita yaitu, Fajar “Jar gimana gak
papa.” Tanyaku padanya. “Alhamdulillah aku gak papa, karna tanganku masih bisa
menggapai tangkai tumbuhan, tapi…” Jawab Fajar yang langsung kuselat “Sudah gak
papa pokonya kamu selamat.” “Tapi tas itu jatuh ke jurang dan di dalamnya
terdapat barang berharga dari kalian semua termasuk dompet, hp, dll.” Lalu kami
terduduk dan meratapi nasib buruk yang menimpa kita. Suara angin dan kicauan
burung mengiringi kesedihan kami. “He ayo teman tetap semangat kita sudah
berjuang sampai disini mari kita lanjutkan tujuan kita, sebentar lagi kita akan
sampai di pantai lalu kita mendirikan tenda disana.” Ujar Dimas menyemangati
kami, lalu kita melanjutkan perjalanan.
Perasaan kami pun terhibur setelah melihat pantai yang
cukup menakjubkan dengan ombak hijau yang memukau, dan pasir yang sangat putih
di tambah pepohonan di pinggirnya yang membuat kita ingin langsung menyatu dan
berfoto dengannya. Langsung kita nikmati semua pemandangan tersebut dengan
gembira ria. Hingga seakan-akan masalah yang kita hadapi larut dalam besarnya
ombak dan kencangnya angin di pantai tersebut. Dan tidak terasa hari mulai
senja sehingga kami semua kembali ke tenda dan ganti baju disana lalu
istirahat. Ketika hari sudah mulai petang kita nyalakan api unggun untuk
menghangatkan badan. Pada saat kami terdiam merasakan hangatnya api unggun,
masalah yang kita lupakan tadi mulai menghantui pikiran kami. Wajah kami pun
tampak mulai lesu lagi dan pikiran pun mulai nggak tenang. “gimana ini teman,
kami semua nggak ada uang terus kartu atm juga nggk ada bensin juga mau habis”
tanya dimas menunjukan kegelisahanya. “Iya gimana ini” Tambah teman yang lain.
“Sudah teman, kita pasrah dan berdoa kepada allah saja” kataku sambil
meninggalkan mereka karna ngantuk dan beergegas ke tenda. Nggk tahu kenapa
disaat keadaan seperti ini pikiranku seperti nggk ada beban dan aku pun
tertidur dengan pulasnya.
Kutatap keadaan di luar, hari mulai berganti, suasana
yang cerah dengan senyumnya mentari, di tambah suara angin,ombak,dan
hewan-hewan lainya menambah semangat buat kami. “Hey…” Dengan senyum semangatku
menyapa mereka, namun mereka hanya menatapiku dan diam seribu kata. “Ayo teman…
kenapa sih kalian itu? Yang semangat dong! Alam sudah semangat dan ceria masak
kalian masih seperti ini?” Kataku. “Kamu itu gimana sih? Dari malam kita nggk
bisa tidur malah kamu santai-santai kayak nggak punya beban” Ujar dimas dengan
nada tinggi sehingga aku pun diam. Lalu aku sempet dengar pembicaraan “kamu
nggk punya temen di daerah sini t?Ya nggk punya lah, wong ini jauh dari rumah
kog.” Nggk tau itu suara siapa, namun dengan suara itu aku benar-benar telah mendapat
hidayah dalam masalah ini“Oh iya teman, Aku ingat….!!! Aku punya teman akrab di
daerah sini. Bentar-bentar…” Perkataanku sambil mengambil hp ku dan menghubungi
temanku. Baru beberapa menit aku sudah mendapat balasan yang sangat mengejutkan
serta membahagiakan dari teman karibku di pondok dulu. “Gimana temanmu dan?
Tanya Ravi kepadaku dengan wajah penuh harap. “Alhamdulillah teman, 10 menit
lagi, temanku akan sampai di sini” “alhamdulillah” Jawab mereka serentak dengan
Tampak di wajah mereka lega dan ceria. “Makasih dan. Maaf ya kami telah salah
menilaimu! Ternyata dalam keadaan seperti ini ternyata kamu yang paling
berpengalaman”Ujar dimas menatapku. “iya dan kami berterimakasih yang sangat
besar kepadamu”Tambah Fajar. “sudah-sudah teman gk usah gitu, memang kita semua
teman yang harus saling membantu.” Akhirnya kami semua pun terharu dan saling
berpelukan satu sama lain(lebay) “Syadan…!” Teriak suara yang tidak asing di
telingaku. Ya, itu suara Zen yang datang untuk menjemput kami. “iya Zen” Jawabku.
Lalu kami semua menghampiri Zen. Setelah itu kita saling mengakrabi layaknya
saudara dan kita pun bersenang-senang Bersama. “Habis ini kerumahku dulu ya...!
Kita istirahat dan santai-santai dulu ok?” Ajak zen kepada kita. Dan kita pun
serentak menjawab “OK” dengan wajah kami yang gembira yang penuh terima kasih.
Jujur pelayanan Zen dirumah nya (Tulung Agung) sangat memuaskan. Memang Zen itu
orangnya baik dan juga Termasuk orang kaya. Sehingga ketika kami berpamitan
kita di beri uang untuk bekal pulang. Alhamdulillah.
Ya, Itulah pengalaman ku Bersama teman-teman rumahku.
Dari cerita tersebut, juju raku gak pernah kebayang sewaktu di pondok manfaat
teman yang begitu besar. Dan untuk mencari teman di pondok itu gratis. Lain hal
nya ketika di rumah, untuk nyari teman pastinya harus dibayar ini dulu lah
apalah dll. Dan sekali lagi di pondok itu gratis.
4 November 2018 ku tulis dan ku kirimkan sebagian cerita
unik di pondok yang semoga dapat menginspirasi orang lain kepada panitia lomba.
Bahkan aku bisa menulis cerpen ini barokah mondok juga, sebab dulu sering
sekali meng angan-angan setiap kejadian yang lewat. Dan semua ilmu itu merasuk
otomatis dalam diriku ketika sehabis mondok. Jadi untuk yang sudah mondok
jangan boyong dulu bayangkan saja ilmu yang nggk kita cari aja manfaat nya begitu besar apalagi kalau kita nyari ilmunya dengan
sungguh-sungguh, pastinya…… dan untuk yang belum mondok saya pertegas, Ayo
mondok…!!!
Karya: Zidan Syahrul Akbar.
Lanjutkan
BalasHapusiya tad , makasih
BalasHapusSemangat terus dlm berkarya gess
BalasHapus